Berbondong-bondong puluhan emiten buyback saham. Mengapa emiten melakukan buy back?

Ada tiga motif utama sebuah emiten memutuskan melakukan buy back saham yang telah dilepas ke publik. Alasan pertama adalah karena motif distribusi. Buy back saham dapat dipakai untuk melakukan pendistribusian kelebihan kas kepada pemegang saham. Sehingga saat kegiatan buyback dilakukan, hanya pemegang saham yang bersedia menjual sahamnya ke emiten tersebut lah yang akan mendapatkan kas. Dan sebaliknya, pemegang saham yang tidak menjual saham tidak akan mendapatkan kas.

Ilustrasi buy back saham. Foto: Pinterest

Meski begitu, investor yang tidak menjual sahamnya tetap berpeluang mendapatkan keuntungan. Yakni berupa kenaikan harga saham setelah emiten melakukan buyback atau pasca melepas kembali saham yang dibelinya. Logikanya, saat jumlah saham beredar di publik berkurang, pemegang saham akan mendapatkan capital gain dari aksi korporasi ini.

Kedua, adalah motif pemberian sinyal kepada pemegang saham bahwa harga sahamnya tengah undervalued. Padahal, prospek perusahaan ke depannya diyakini cukup baik dan mampu mengatasi masalah yang terjadi saat ini.

Sebagaimana yang terjadi pada BBNI saat ini. Dengan proses buyback perusahaan yakin dengan kondisi fundamentalnya saat itu mereka dapat mendongkrak nilai sahamnya.

Aksi buyback saham ini bisa berfungsi sebagai parasut yang akan mengangkat nilai saham perusahaan pada titik tertentu saat pasar saham sedang terjun bebas. Sebagaimana pada Oktober 1987 dimana saat itu market crash di Wall Street, dan banyak emiten berbondong-bondong mengumumkan rencana menggelar buyback dengan nilai tertentu.

Ketiga, motif struktur modal. Buyback saham berdampak pada pengurangan jumlah ekuitas yang diberikan perusahaan. Dengan begini, rasio utang perusahaan akan mengalami peningkatan. Dan pihak manajemen bisa mencapai rasio utang yang diinginkan.

Hal ini banyak dilakukan oleh beberapa emiten di Amerika Serikat. Yang melakukan buyback untuk mengubah rasio uutangnya dan bertujuan untuk mencapai rasio utang sasaran tersebut. Dalam artian, buyback dapat dilakukan emiten saat mereka merasa rasio utangnya terlalu rendah.

Alasan utama emiten melakukan buy back saham, agar nilai saham meningkat

Dari tiga alasan yang dijabarkan diatas, perusahaan-perusahaan di Indonesia biasanya melakukan buyback lantaran harga sahamnya yang jatuh. Nilai PBV nya under value sehingga perusahaan ingin mengurangi jumlah saham yang diedarkan ke publik.

Dalam artian, perusahaan dengan kondisi fundamentalnya saat ini merasa bahwa kinerja perusahaan terlalu bagus untuk nilai PBV yang rendah ini. Dengan mengurangi pegangan saham di publik, otomatis harga saham akan naik dan PBV emiten terkait akan meningkat.

Itulah alasan utama emiten melakukan buy back saham. Untuk ulasan hal inspiratif lainnya, silahkan follow Bisnika (TCT)

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button