Kompetitormu bukan musuhmu, tergantung kamu tempatkan sebagai apa?

Hayo siapa yang gak sebel sama kompetitor? Beneran ada yang tidak menganggap mereka sebagai musuh usaha?
Ada pepatah yang mengatakan seribu teman masih kurang banyak satu musuh itu terlalu banyak.
Jadi kompetitormu bukan musuhmu. Terus mereka apa dong? Yuk kita lihat sudut pandang yang lain.

Kompetitor adalah gurumu

Kenapa guru?
Karena kamu dapat belajar banyak dari kompetitor mu. Tanpa harus mengalami sendiri, kamu bisa mempelajari kelemahan-kelemahan mereka untuk tak melakukannya.

Kamu juga bisa mempelajari kelebihan mereka, tanpa harus melakukan trial and error sendiri.

Kompetitormu adalah pemacu inovasi

Dengan adanya kompetitor maka kamu senantiasa terpacu untuk menelurkan inovasi-inovasi baru. Hal ini akan membuat produk mu tidak membosankan, selalu menarik perhatian, dan terus-menerus ada pada strategi blue ocean.

Memang gak enak, guys… Kamu seolah-olah harus selalu berada pada zona tak nyaman. Tapi sebetulnya itu menguntungkan dari sisi klien. Klien akan terus-menerus memperoleh servis yang lebih baik dengan adanya kompetisi. Hal ini juga membuat klien terus setia mengikuti produk.

Ya memang bila masuk ke dunia bisnis, kita harus siap untuk selalu berada pada zona tak nyaman. Jika zona kita nyaman-nyaman saja, justru perlu dipertanyakan. Apakah sebetulnya bisnis kita sedang menuju kehancuran?

Kompetitormu bukan musuhmu, mereka bisa jadi mitramu

Mana mungkin jadi mitra? Melihat logonya aja badan jadi gatal gatal alergi semua. Hehehe Jangan gitu juga kali.

Jika kalian berada pada bisnis yang sama, maka pepatah yang berlaku adalah bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Karena berada pada bisnis yang sama, maka kalian pasti menghadapi lingkungan bisnis yang sama.

Ya kalau udah perusahaan besar gitu, kamu punya kekuatan untuk menghadapi berbagai gelombang perubahan lingkungan bisnis. Tapi kalau masih start up atau UMKM, jelas posisi kalian masih sama lemahnya.

Makanya kalau bersatu, bisa Jadi kalian akan memperoleh pemasok bahan baku dengan harga yang lebih miring, misalnya. Atau mengekspor barang ke luar negeri tanpa harus memproduksi sendiri, jadi bisa bagi-bagi resiko.
Nah masih banyak kerjasama kolektif lainnya yang bisa digali.

Meski resep dapur masih berupa sesuatu yang harus kamu rahasiakan, namun dalam batas-batas tertentu kerjasama dengan orang berbisnis rupa perlu dipertimbangkan juga. Tentu saja dengan asas sederajat dan sama-sama menguntungkan, ya. Makanya meskipun saling berkompetisi, selalu saja muncul organisasi berbagai macam pengusaha.  Hal itu dalam rangka memperoleh keuntungan bersama.

Jadi kompetitormu bukan musuhmu, mereka bisa menjadi bentuk bentuk lain tergantung sudut pandang. Untuk ulasan hal inspiratif lainnya, silahkan follow Bisnika (TCT)

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button