Pembiayaan fintech lending tumbuh 28,7% di bulan Maret, baik atau buruk?

P2P Lending menjadi salah satu alternatif pinjaman atau pembiayaan yang saat ini tidak kalah populer dengan pembiayaan di sektor keuangan lainnya. Dibandingkan pembiayaan perbankan dan koperasi, P2P lending dianggap lebih mudah dan lebih cepat untuk dilakukan. Rasanya hal inilah yang menjadi penyebab pembiayaan fintech lending tumbuh 28,7% di bulan Maret 2021 ini.

Apakah pertumbuhan ini menjadi kabar baik atau kabar buruk untuk masyarakat? Berikut ini pembahasannya!

Pertumbuhan fintech lending memberikan pertanda pertumbuhan ekonomi

Dilansir dari laman investor.id, besaran pembiayaan lending tumbuh 28,7% secara year on year. Dengan kalkulasi pertumbuhan sebesar Rp 19,04 triliun per Maret 2021.

Pertumbuhan ini menandakan adanya kebangkitan ekonomi yang sedang terjadi, utamanya dalam sektor UMKM Indonesia. Dan p2p lending menjadi salah satu alternatif pencairan dana cepat dan mudah yang bisa dimanfaatkan masyarakat.

Perkembangan industri P2P lending utamanya di tahun 2021 ini diharapkan dapat membantu masyarakat utamanya UMKM untuk mendapatkan pinjaman dengan bunga dan angsuran rendah.

Selain memberikan pinjaman kepada UMKM dan pebisnis kecil, P2P lending juga memberikan peluang investasi kepada masyarakat luas. Caranya adalah dengan ikut serta menanamkan dananya dalam jumlah tertentu di aplikasi resmi P2P Lending.

Pertumbuhan fintech lending harus dibarengi dengan peningkatan regulasi

Meskipun dianggap sebagai sinyal pertumbuhan ekonomi yang positif, pertumbuhan fintech lending tetap saja harus dibarengi dengan peningkatan regulasi. Tentu saja agar segala transaksi yang terjalin antara investor, peminjam, dan pengelola fintech dapat berlangsung dengan aman.

Juru bicara dari Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia, Andi Taufan menyatakan hingga kini pihaknya terus melakukan pembenahan agar industri fintech bisa berkembang dengan sehat.

Pembenahan dilakukan dengan melakukan pembaruan aturan main. Contohnya dengan mengawasi kesehatan dan peran industri fintech ini terhadap proses penyaluran dana pinjaman kepada masyarakat.

Lebih lanjut, agar tercpta keamanan dan kenyamanan dalam transaksi fintech ini AFPI mengajak masyarakat untuk hanya menggunakan platform fintech lending yang resmi berijin dan terdaftar di OJK.

Hingga awal Mei 2021 ini Otoritas Jasa Keuangan telah mendata sebanyak 56 entitas berizin dari total sebanyak 146 penyelenggara fintech lending yang beredar di Indonesia.

Dengan semakin banyaknya anggota fintech yang berizin ini diharapkan industri fintech pendanaan di Indonesia semakin kokoh dan terjamin keamanannya.

AFPI mendorong setiap fintech mengantongi ijin OJK

Mengingat masih banyak anggota fintech yang terdaftar di AFPI namun belum diresmikan ijinnya oleh OJK, pihak AFPI terus mendukung setiap anggota untuk berusaha mendapatkan lisensi dan ijin dari OJK.

Sejak awal tahun 2021 ini, sebanyak 10 anggota AFPI telah mengantongi ijin OJK. Dengan total akumulasi sebanyak 19 member AFPI yang sudah memperoleh izin.

Demikianlah ulasan tentang pembiayaan P2P fintech lending tumbuh subur. Untuk ulasan hal inspiratif lainnya, silahkan follow Bisnika (TCT)

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button