Pertumbuhan saham di BEI

Saham bluechip merupakan saham yang menjadi favorit bagi para investor jangka panjang. Perusahaan yang masuk dalam kategori bluechip biasanya memiliki kapitalisasi pasar besar, memiliki reputasi baik di negaranya, kinerja atau laporan keuangannya bagus dan sahamnya likuid (sering diperdagangkan). Bagaimanakah pertumbuhan saham di Bursa Efek Indonesia?

Pertumbuhan saham di Bursa Efek Indonesia

Indeks Harga Saham Gabungan. Foto: Pinterest

Di indonesia sendiri beberapa investor mengartikan saham bluechip sebagai saham yang terdaftar di Indeks LQ-45. Akan tetapi tidak semua saham bluechip masuk dalam indeks LQ-45. Pemilihan saham Indeks LQ-45 bukan berdasarkan kriteria bluechip akan tetapi lebih ke tingkat likuiditas sahamnya di bursa..

Biasanya para investor pemula disarankan untuk membeli saham – saham anggota LQ-45 karena tingkat likuiditas dan fundamentalnya bagus. Selain indeks LQ-45, banyak indeks – indeks lain di Bursa Efek Indonesia. Seperti JII, Kompas 100, Bisnis 27, Pefindo 25, dan Sri Kehati. Tingkat return (laba/imbal hasil) dari indeks LQ45 pun tidak jauh berbeda dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sehingga dijadikan indeks pilihan utama selain IHSG sebagai acuan di Pasar Modal Indonesia.

Berbicara tingkat return. Ada berbagai instrumen investasi di dunia ini dengan tingkat imbal hasil dan risiko yang berbeda – beda selain di pasar modal. Instrumen investasi sendiri dibedakan menjadi dua sektor yaitu sektor riil dan non riil. Sektor riil merupakan upaya mengelola uang atau aset secara langsung pada jenis atau bidang usaha tertentu. Seperti membeli tanah, membeli toko, membeli rumah, dan membeli emas untuk dijual kembali.

Investasi non riil

Sedangkan investasi sektor non riil atau sektor keuangan merupakan upaya mengelola aset melalui produk – produk di pasar keuangan dan turunannya yang tidak terlihat seperti deposito, reksadana, obligasi, dan saham. Biasanya pemilihan instrumen investasi berdasarkan jumlah modal awal, tingkat return dan risiko juga tingkat likuiditas dan tingkat kemudahan dalam bertransaksi.

Instrumen investasi yang paling dikenal di Indonesia adalah di sektor riil karena produknya nyata atau punya fisik seperti tanah. Umumnya investasi di sektor non riil kurang diminati karena tidak ada fisiknya, padahal investasi di sektor ini tidak kalah menguntungkan. Bahkan dalam beberapa kasus investasi di sektor non riil terutama saham, untungnya melebihi instrumen investasi sektor riil, dan non riil lainnya.

Selain dari sisi modal awal, return, dan tingkat likuiditasnya, kemudahan bertransaksi membuat saham lebih unggul dibanding instrumen investasi lainnya.

Untuk ulasan hal inspiratif lainnya, silahkan follow Bisnika (TCT)

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button