Sarjana masih banyak pengangguran, ketahui penyebabnya

Universitas baik negeri atau swasta baik di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI atau Kementerian Agama, semuanya memiliki jumlah mahasiswa yang luar biasa banyak. Setiap tahun mereka akan selalu menerima kuota masuk mahasiswa baru. Begitupun juga dalam meluluskan mahasiswa semester tua. Akhir kisah kuliah dan awal perjalanan menuju masa depan yang lebih menentukan, itulah yang membuat sebagian banyak mahasiswa khawatir dengan nasibnya. Banyak sarjana yang pengangguran karena berbagai hal.

Bukan perihal salah mereka sendiri, tetapi juga keadaaan yang membuatnya sesak nafas akan persaingan hidup saat ini.

Inilah sebab-sebab sarjana masih banyak yang belum mendapatkan pekerjaan.

Sebab sarjana menganggur

Tidak punya pengalaman yang bisa diceritakan

Pada beberapa hal, menceritakan pengalaman sebenarnya mengkaji sesuatu hal yang mahal. Jika kamu memiliki pengalaman sekecil apapun maka hargai itu dan berikan makna dibalik pengalaman tersebut sehingga suatu ketika kamu bisa menjual pengalaman itu dengan berbagi dan bercerita. Beberapa perusahaan juga ada yang memerlukan pengalaman kamu dan keterbukaan kamu.

Curriculum Vitae kosong

Kebanyakan pelamar tidak menyadari pentingnya memiliki portofolio. Jika mereka punya pun tidak memiliki kualitas yang sesuai dengan keinginan perusahaan.

Jka tidak memiliki portofolio, pihak perusahaan akan menanyakan mahasiswa tersebut ngapain saja selama kuliah. Minimal portofolio itu bisa menceritakan tentang magang, volunteer, pengalaman kerja, atau lomba mahasiswa.

Literasi masih rendah

Maksud literasi rendah di sini adalah kebanyakan pelamar tak memperhatikan dan mencermati apa yang ditulis pihak perusahaan untuk menyaring para pekerja baru. Terkadang mereka tidak membutuhkan data diri seperti KTP atau KK, tetapi portofolio.

Sayangnya, tak banyak disadari mereka justru mengirim data diri yang tak dibutuhkan perusahaan, dan justru mengabaikan apa yang sebenarnya dibutuhkan.

Karena itulah literasinya harus ditingkatkan untuk betul-betul memahami yang diinginkan perusahaan.

Kurang telaten

Banyak pelamar tidak memperhatikan etika secara teliti. Jika melamar menggunakan media online seperti email misalnya, sebaiknya diperhatikan etikanya. Misalnya foto profil jangan selfi atau justru foto anime.

Selain itu, jangan mengirim berkas begitu saja tanpa ada permisi dan pengenalan. Usahakan bagian deskripsi email jangan kosong karena itu akan mengurangi ke-respect-an perusahaan dengan kamu.

Kompetisi semakin ketat

Saat ini perlu disadari bahwa nampaknya lebih banyak pengangguran daripada lapangan pekerjaan. Jika tak mendapatkan lapangan pekerjaan, kamu bisa ciptakan sendiri sebagai lulusan dari perguruan tinggi.

Melamar melenceng dari bidangnya

Misalnya perusahaan menginginkan ahli aplikasi desain. Banyak pelamar yang ikut memasukkan lamarannya walaupun hanya memiliki kemampuan microsoft word dan excel.

Lulusan sarjana tidak dilirik untuk posisi blue collar yang biasanya diambil lulusan SMA. Posisi buruh untuk para lulusan SMA.

Untuk ulasan hal inspiratif lainnya, silahkan follow Bisnika (TCT)

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button