Stok kedelai di ujung tanduk, Ini yang perlu dilakukan

Sekretaris Jenderal Kemendag, Suhanto menegaskan bahwa stok kedelai cukup untuk kebutuhan industri, khususnya tahu dan tempe nasional. Walaupun stok kedelai dinyatakan masih cukup, namun itu hanya dalam hitungan 2-3 bulan. Ini masih rawan akan minimnya ketersediaan tahu dan tempe sebagai makanan bergizi dari kedelai.

Bagaimana Pemerintah seharusnya melakukan antisipasi permasalahan ini ?. Simak artikelnya di sini.

Stok Kedelai Bermasalah

Permasalahan stok kedelai yang tiba-tiba mengkhawatirkan tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumsi di Indonesia seharusnya jauh-jauh sebelumnya sudah diantisipasi.

Apresiasi untuk Pemerintah yang sudah melakukan berbagai hal demi tetap memasok kebutuhan kedelai bagi masyarakatnya. Namun ada perlunya usaha swasembada pangan ini ditingkatkan kembali.

Proyeksi kedelai dalam negeri yang belum mampu memenuhi kebutuhan kedelai nasional, disebabkan dari penurunan luas areal panen kedelai di Indonesia. Sebaliknya, permintaan kedelai setiap tahunnya justru selalu meningkat.

Kebijakan impor kedelai menjadi langkah alternatif mengatasi gap tingkat produksi dan konsumsi kedelai di Indonesia ini. Tapi tak disangka-sangka. Bahkan ketersediaan kedelai impor pun belum menjadi jaminan ketika tiba-tiba salah satu negara importir juga meningkatkan permintaan kedelai hingga 2 kali lipat.

Swasembada kedelai menjadi solusi strategis

Pilihan swasembada pangan menjadi solusi yang strategis karena impor dalam jumlah besar akan mengganggu stabilitas sosial ekonomi, maupun politik dari suatu negara. Jika saja kedelai yang diperlukan mampu dipenuhi dari produksi dalam negeri, atau produksi lokal, maka devisa yang dihasilkan dapat digunakan untuk tujuan yang lebih bermanfaat bagi negara.

Maka untuk mendukung swasembada ini, berdasarkan penelitian Gelar Satya Budhi dan Mimin Aminah, Forum Penelitian Agro Ekonomi menyebutkan Indonesia menemukan seperangkat teknologi yang menjanjikan berupa varietas kedelai dengan produktivitas tinggi.

Teknologi untuk meningkatkan spektrum pengembangan, ekstensifikasi lahan, dan upaya penyediaan benih yang bermutu.

Upaya swasembada ini tidak bisa hanya memfokuskan peningkatan produksi untuk memenuhi permintaan. Diversifikasi produksi dan konsumsi juga perlu dilakukan secara bersamaan. Dengan demikian pemenuhan pasokan dari dalam negeri sendiri dapat relatif lebih mudah dilakukan.

Diversifikasi konsumsi kedelai untuk komoditas alternatif dalam menggantikan kedelai, dapat dilihat dari salah satu contoh potensi Indonesia yang lainnya.

Bahwa Indonesia juga memiliki kedelai lain yang sejenis, seperti kedelai hitam yang juga memiliki potensi untuk dijadikan tempe dan tahu. Begitu pula kacang tunggak, koro, dan kacang gude yang merupakan kacang sejenis kedelai. Kacang-kacang ini bisa diolah menjadi makanan bergizi yaitu tahu dan tempe.

Pada akhirnya, tanah air ini mampu menyediakan kebutuhan konsumsi kedelai dari dalam negeri, dengan mengoptimalkan potensi yang ada di negeri sendiri.

Untuk berita bisnis inspiratif, follow Bisnika ini.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button